kampung pitu

Kampung Pitu, sebuah kampung yang berada di Puncak Gunung Nglanggeran. Kampung dengan tradisi yang unik dimana kampung ini konon hanya terdiri dari 7 keluarga saja sejak 200 tahunan yang lalu.

Sejarah Kampung Pitu

Kampung Pitu adalah komunitas adat yang berada didataran tinggi Pegunungan Nglanggeran Gunungkidul Yogyakarta. Konon sebelum menjadi sebuah perkampungan dahulunya kawasan ini adalah hutan belantara. Di kampung ini terdapat pohon langkah yang bernama Kinah Gadung Wulung.

Pohon ini konon menyimpan pusaka dengan kekuatan yang besar, karenanya pihak Kraton Yogyakarta yang mengetahui perihal ini segera mengirim orang untuk merawat dan menjaga pusaka yang terdapat dipohon tersebut. Dalam memilih orang yang akan mengemban tugas ini, Kraton melakukan sayembara kepada siapapun yang sanggup dan dapat mengemban tugas ini akan diberikan tanah secukupnya untuk anak dan keturunannya.

Kampung pitu

Banyak orang yang akhirnya tertarik untuk mengikuti sayembara ini, tetapi hanya satu orang saja yang berhasil melakukannya. Eyang Ira Dikrama adalah orang yang mampu masuk kehutan dan mengamankan pusaka tersebut, kemudian pusaka tersebut di simpan di Kraton.

Asal Mula Kenapa Hanya Tujuh Kepala Keluarga Yang TInggal Di Kampung Pitu

Setelah Eyang Ira Dikrama berhasil melaksanakan tugas dari Kraton dan akhirnya tinggal di Kampung ini, banyak orang sakti yang akhirnya ikut berdatangan dan mencoba untuk ikut tinggal disini tetapi hanya 7 orang yang berhasi hidup dan ikut bermukim di Kampung Pitu.

Kampung pitu

Jumlah ini tetap bertahan hingga sekarang, di kampung ini hanya tinggal 7 kepala keluarga tidak lebih dan tidak pula kurang. Bila ada dari keturunan mereka yang telah berkeluarga dan ingin mendirikan rumah sendiri harus pergi dari kampung tersebut, namun jika ingin tetap tinggal kepala keluarga baru harus menunggu salah satu kepala keluarga terhadulu meninggal.

Konon, jika ada kepala keluarga baru yang nekat untuk tetap mendirikan rumah sendiri dan membentuk keluarga baru di kampung ini sedangkan jumlah keluarga terdahulu masih lengkap tujuh kepala keluarga, maka kepala keluarga yang baru tersebut akan mengalami hal – hal yang diluar logika dan akal seperti sakit – sakitan, tidak betah, bahkan kematian. Hal ini masih dipercaya hingga saat ini.

BACA JUGA: Ini Tempat Menyeramkan di Jogja, Kalian Berani Kesana ?

Tetap Menjaga Tradisi Di Era Modern

Di kampung ini, tradisi masih sangat kental terasa dan dijaga oleh penduduknya. Selain tradisi tujuh kepala keluarga, dikampung ini juga diadakan tradisi rasulan yang sama seperti rasulan di daerah lain di Yogyakarta hanya saja dikampung ini dilakukan dua kali dalam setahun. Berikutnya tradisi tingalan atau ulang tahun warga desa, warga yang ulang tahun mengundang warga lainnya untuk makan bersama. Selanjutnya adalah tradisi bersih makam yang dilakukan satu tahun sekali menjelang ramadhan dan makam yang dibersihkan adalah makam Eyang Ira Dikrama untuk penghormatan sebagai sepuh pendiri kampung.

Selain tradisi yang masih sangat dijaga, dikampung ini juga masih memiliki hal – hal unik lainnya seperti pantangan menampilkan wayang kulit dengan cerita tertentu, keharusan pentas wayang kulit yang tidak boleh membelakangi Gunung Nglanggeran, kemudian terdapat juga sendang tempat mandinya kuda sembrani yang sering dikunjungi orang banyak pada waktu – waktu tertentu untuk melakukan tirakat dan ritual.