permintaan dari yang tak kasat mata

Malam itu seperti biasa, aku kembali pulang dini hari setelah seharian berkuliah dan kemudian melanjutkan kegiatan bermusik. Akhir – akhir ini memang kegiatanku cukup banyak, karena sebagai seorang mahasiswa baru yang masih memiliki tanggungan mata kuliah wajib serta komitmenku bersama beberapa temanku untuk juga serius memulai peruntungan di dunia musik (haseeekkk…!,.serius amat bahasanya..!!hahahahaha)

Pukul 02.00 dini hari waktu yang ditunjukan jam tanganku ketika aku mulai beranjak pulang dari sebuah studio musik yang merupakan basecamp kami. Kurang lebih 30 menit aku melaju dengan motorku “Ah, jembatan itu sudah mulai dekat…?ujarku dalam hati”. Sebuah jembatan yang harus aku lalui untuk sampai ke kosku. Jembatan yang kanan kirinya dipenuhi pohon bambu yang rindang dan tanpa penerangan, hanya bias cahaya minim dari beberapa gedung terdekat. Cukup menyeramkan jika dilalui selarut ini dan itu lebih lengkap karena aku sendirian.

permintaan dari yang tak kasat mata
Ilustrasi Jembatan by: pixabay.com

Beberapa hari terakhir ketika dini hari aku pulang, kerap kali aku bertemu dengan sosok tak kasat mata berpakaian gamis panjang serba putih dan berjanggut, umur kalau dimensi manusia kisaran mendekati 50 tahun, tidak terlalu tua dengan tubuh tegap dan tampak gagah, tapi aura yang dipancarkannya membuat nyaliku ciut dan takut, dia sedang duduk ditepian jembatan itu seakan – akan menungguku untuk sekedar menyapa dan berbicara. Aku bahkan sudah bisa merasakan kehadirannya dari kejauhan sebelum aku sampai dijembatan itu. “Dan Astaga…!!!dia disana lagi…fikirku.??”Kenapa sih..mau apa sebenarnya dia ini, salah apa aku ??Salah apa aku..dalam hatiku bergejolak antara kesal dan takut..

Duduk santai diatas pembatas ujung jembatan sambil menggoyang – goyangkan kakinya. Terus terang, meski ini bukan pertama kalinya terjadi padaku dan sesungguhnya masih banyak lagi sosok tak kasat mata lebih menyeramkan yang pernah aku temui dari ini. Namun ini berbeda, kenapa aku tak bisa seperti biasanya, selalu tenang dan cenderung acuh. Melihatnya dari kejauhan saja aku sudah bergidik sekujur tubuh apalagi untuk berkomunikasi dengannya…!!!bisa jadi aku kencing dicelana dibuatnya “pikirku. Perawakannya yang tenang dan santai serta senyumnya yang seakan bermakna “Darimana saja kau baru pulang selarut ini?ayo..apa kau berani padaku?”

Dan hal itu terjadi saat ini, sesaat ketika aku mulai melewati jembatan itu dengan motorku. Ya ampun..!!!
Hemmm…Dia tersenyum lagi…lemas rasanya kakiku dibuatnya..tapi aku berusaha tetap fokus dan tidak panik agar motorku tetap melaju dengan baik. Berkecamuk rasanya khayalanku, jangan sampai dia naik dibelakang duduk ikut serta dimotorku..jangan sampai dia tiba – tiba muncul didepan motorku, jangan sampai dia tiba – tiba menempeleng kepalaku..pengen teriak, tapi teriak apa..?pengen minta ampun rasanya..hiks..

BACA JUGA: Kampung Pitu, Kampung Yang Hanya Dihuni Oleh Tujuh Kepala Keluarga

Entah ayat Al’quran apa saja yang keluar dari mulutku saat itu sampai akhirnya aku sudah berada diujung jembatan. Alhamdulillah ujarku, akhirnya aku sampai dikos dan buru2 aku masuk untuk mengunci pintu kamarku.

Meski akhirnya akupun tak bisa tertidur karena terlalu banyak pertanyaan dibenakku, siapa dia?apa yang dia cari?kenapa dia seola olah selalu menungguku disana ketika aku akan pulang?Bagaimana caraku agar terhindar darinya?